SEJARAH

Hetairai Sang Pelacur Athena

Dibaca: 3974 kali  Selasa,11 April 2017 | 19:58:37 WIB
Hetairai Sang Pelacur Athena
Ket Foto : ilustrasi

 

Selain cantik, mereka harus berpengetahuan luas dan mahir bermain musik. Mereka menjadi teman para pembesar Athena, Yunani

 

linkarnews.com - SOCRATES, filsuf ternama asal Athena, Yunani, memilih mati minum racun ketimbang hidup mengingkari kebenaran. Pengadilan mendakwanya menyebarkan ajaran yang merusak generasi muda. Sebelum mati, masa hidupnya (470 SM-399) sebagian besar dihabiskan untuk bertanya kepada orang-orang untuk membantu orang lain memperoleh wawasan dan pengetahuan yang benar dengan mencari dan mendapatkannya sendiri. Karenanya metode filsafatnya disebut seni kebidanan (maieutika). Dari kesenangannya bertanya-tanya, dia tak disukai sebagian orang, tapi punya banyak kawan. Salah satu kawan akrabnya, Theodote, seorang hetairai atau pelacur kelas atas masa peradaban Yunani Kuno.

Peradaban Yunani Kuno sering disebut sebagai sumber renaissans (kelahiran kembali) di Eropa Barat pada abad ke-15. Kala itu, buah pikir filsuf Yunani Kuno yang mempengaruhi bidang seni, bahasa, sastra, politik, pendidikan, dan ilmu kembali digali. Peradaban Yunani Kuno sendiri merentang waktu hampir sepuluh abad, sejak 8 SM sampai 4 M. Rentang waktu itu terbagi atas masa arkais (750-500 SM), masa klasik (500-323 SM), masa helenistik (323-146 SM), dan masa akhir antikuitas (146 SM-4 M). Negara-kota Athena menjadi pusat tumbuh-kembangnya peradaban negeri ini.

Peradaban ini, selain melahirkan sejumlah ahli pikir, juga memunculkan hetairai. Berbeda dari perempuan Athena umumnya, hetairai menduduki posisi lebih tinggi dalam masyarakat. Para negarawan dan filsuf menghargai mereka.

Perempuan tak punya banyak peran dalam masyarakat Athena. Mereka juga mendapat pembatasan. Mereka tak boleh menjadi pejabat pemerintahan lokal. Membaca dan menulis tak menjadi kewajiban mereka. Sekolah tak mau menerima mereka sampai masa Helenistik. Bersama para budak dan orang asing, perempuan Athena tak punya pengaruh atau hak-hak sipil. Singkatnya, "Menjadi perempuan pada masa Athena Kuno sangat tak menyenangkan," tulis Jørgen Christian Meyer, guru besar Departemen Arkeologi, Sejarah, Kajian Budaya, dan Agama pada Universitas Bergen, Norwegia dalam makalahnya, "Women in Classical Athens."

Seorang perempuan mesti menjadi hetairai jika menginginkan posisi yang lebih tinggi. Menurut Nikolaos A. Vrissimtzis dalam bukunya Erotisme Yunani, "peran perempuan memang direndahkan, tapi kita juga tak bisa berpikir bahwa posisi mereka tak dihargai." Karena itu, beberapa perempuan, terutama imigran dan budak, berupaya menjadi hetairai di Athena.

Pemerintah Athena tak melarang prostitusi. Hal yang sama terjadi pada wilayah Yunani lainnya. Bahkan seorang negarawan, Solon (638 SM-558 SM), menjadi salah satu germo pertama di Athena. Dia membuka rumah bordil. Pelacur rendahan dari berbagai kota di Yunani tersedia di sana, sebab perempuan Athena dilarang menjadi pelacur. Dari rumah bordil itu mereka bisa menapaki karier sebagai hetairai.

Sebutan hetairai kali pertama tersua dalam Histories karya Herodotus (484 SM-425 SM), sejarawan Yunani Kuno. "Sebutan itu ditujukan untuk Rhodopis (569 SM-526 SM), seorang perempuan asal Thrace (Turki) yang pindah ke Naukratis (Mesir), koloni Yunani Kuno," tulis Rebekah Witheley dalam "Courtesans and Kings: Ancient Greek Perspectives on the Hetairai" tesis pada Universitas Calgary, Kanada. Rhodopis dinilai sebagai hetairai pertama dan terkenal di kalangan pembesar Naukratis.

Untuk menjadi hetairai, seorang perempuan tak cukup hanya cantik. Dia mesti meluaskan pengetahuan mengenai bahasa (puisi), filsafat, dan politik. Dia bisa memperolehnya dari pergaulan dengan tetamunya. Keahlian bermain alat musik seperti flute, tamborin, kastanet, dan lyre juga sangat dibutuhkan. Selain itu, mereka harus mahir menari. Inilah yang membedakan hetairai dengan pelacur rendahan dan selir. Berbekal kemampuan itu, mereka melayani tetamu laki-laki dalam symposia, acara minum anggur dan diskusi khusus lelaki yang diakhiri bercinta dengan hetairai. Aktivitas percintaan mereka dapat dilihat pada guci-guci kuno Yunani.

Hetairai mencapai popularitas pada masa klasik. "Masa ini dinilai banyak sarjana sebagai zaman keemasan Haeterai. Kebanyakan berasal dari luar Athena, namun hidup bersama lelaki Athena," tulis Rebekah. Beberapa tokoh penting Athena seperti Pericles (orator dan negarawan), Praxiteles (seniman patung), dan Epicurus (filsuf) mempunyai hetairai masing-masing. Yang terkenal adalah Aspasia, milik Pericles. "Socrates sangat memuji kemampuan bicaranya," tulis Nikolaos. Tapi, hubungannya dengan Pericles menjadi gunjingan banyak orang. Sebab, Aspasia bukan orang Athena, sedangkan Pericles adalah pembesar Athena.

Hidup hetairai dilimpahi kemewahan dan keistimewaan. Dengan bayaran mahal mereka memiliki rumah dan budak sendiri. Ini melanggar aturan umum masyarakat Athena yang tak membolehkan perempuan memiliki rumah dan budak. Anak-anak mereka juga mewarisi hak-hak istimewa sang ibu. Meski statusnya bukan sebagai warga Athena, anak-anak itu dapat menduduki posisi sebagai jenderal atau anggota senat. Padahal, aturan tak memperkenankan anak hasil hubungan lelaki Athena dengan perempuan luar Athena memperoleh hak-hak politik.

Sebenarnya, hetairai tak menghendaki kehamilan dari hubungan dengan tetamu. Karenanya mereka berhati-hati dalam berhubungan intim. Beberapa cara seperti sanggama terputus, membaca mantera-mantera, meminum ramuan tertentu, dan memakan telur gagak diterapkan. Tapi, karena banyak dari mereka menjadi selir, kehamilan tak terhindarkan. Bagi masyarakat Athena, selir memiliki fungsi sebagai penghasil keturunan atas persetujuan istri sah. Lelaki Athena memelihara selir karena istrinya mandul atau hanya melahirkan anak perempuan.

Hetairai masih ditemukan hingga masa akhir Antikuitas meski popularitasnya menurun. Bahkan, menyebar hingga luar Athena seperti di Corinth, 78 km barat daya Athena. Di kota ini, para hetairai membangun kuil megah dan luas untuk dipersembahkan kepada Aphrodite –dewi cinta, kecantikan, dan seksualitas. Namun, kuil ini merupakan peninggalan terakhir hetairai. Memasuki abad ke-4 M, Kristen muncul. Peradaban Romawi perlahan terbit dan Yunani Kuno mulai tenggelam. Hetairai dianggap kotor. Dan lambat-laun namanya menghilang meski profesinya tak pernah ditinggalkan. (**)

Akses LingkarNews Via Mobile m.linkarnews.com
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR
Baca Juga Kumpulan Berita "Profile"