Dilema Partai Demokrat, Antara AHY dan TGB

Dibaca: 3150 kali  Sabtu,17 Maret 2018 | 19:02:28 WIB
Dilema Partai Demokrat, Antara AHY dan TGB
Ket Foto : Dilema Partai Demokrat, Antara AHY dan TGB

 

linkarnews.com - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Tuan Guru Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang/TGB) terus menjadi pembicaraan hangat belakangan ini. Kedua nama ini muncul sebagai calon pemimpin yang layak maju pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

 

AHY, putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terus digadang-gadang Partai Demokrat untuk tampil baik sebagai capres maupun cawapres. Meski dinilai tidak memiliki pengalaman, AHY memiliki potensi besar mengingat popularitas dia cukup tinggi sejak menjadi calon gubernur DKI pada tahun lalu.

 

Demokrat mencoba melakukan pendekatan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar mempertimbangkan AHY mendampinginya sebagai cawapres pada Pilpres 2019. PDI Perjuangan secara resmi mengumumkan pencalonan Jokowi sebagai capres, namun belum menentukan sosok cawapresnya. Spekulasi pun bertebaran terkait siapa cawapres Jokowi.

 

Sejumlah nama dimunculkan sebagai profil yang pas untuk mendampingi Jokowi. Di antaranya, Budi Gunawan, Puan Maharani, Muhaimin Iskandar, Mahfud MD, AHY, Airlangga Hartarto, hingga TGB.

 

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego, menilai AHY pantas mendampingi Jokowi dalam pilpres 2019. Meski, Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat ini dinilai belum banyak memiliki pengalaman.

 

AHY memang patut diperhitungkan. Sebab, sosok mudanya akan mendulang suara dari pemilih muda. ''Tentu saja anak muda minus pengalaman,'' kata Indria, Rabu (14/3).

 

Indria tidak memungkiri kesan kurang pengalaman memang melekat pada diri AHY. Namun, katanya, pemilih terkadang memilih berdasarkan pada popularitas.

 

Pengamat politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan, berpendapat AHY patut diperhitungkan mengingat memiliki elektabilitas cukup kompetitif. AHY juga tokoh muda yang bisa diharapkan jadi pemimpin, walaupun memang belum berpengalaman.

 

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan menegaskan, soal AHY yang belum memiliki pengalaman di pemerintahan tidak bisa menjadi ukuran. "Tanyalah Bung Karno, apakah punya pengalaman pernah jadi Presiden? Tanyalah John F Kennedy, tanya jugalah Perdana Menteri Prancis. Karena itu, pengalaman bisa ditafsirkan luas, bisa juga sempit," jelasnya.

 

SBY dan Demokrat memang sangat serius membawa-bawa AHY sebagai pemimpin masa depan bangsa. Saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapimnas Partai Demokrat di Sentul International Convention Center, Bogor, beberapa waktu lalu, SBY memberikan sinyal penting terkait posisi AHY.

 

SBY memuji Presiden Jokowi yang hadir pada Rapimnas Demokrat dan siap bergabung dengan koalisi pejawat. SBY menyatakan tidak menutup kemungkinan Demokrat mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden. "Pak Presiden, jika Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa menakdirkan, sangat bisa Partai Demokrat berjuang bersama bapak," ujar SBY.

 

Namun, Indria Samego mengingatkan adanya potensi kekecewaan dari parpol pendukung Jokowi jika Agus Harimurti yang akhirnya dipilih sebagai cawapres. Apalagi, parpol-parpol itu sudah menyorongkan tokoh pilihannya untuk menjadi pendamping Jokowi.

 

''Tidak mudah bagi partai lain untuk menerima AHY. Ada sistem konvensi dan tinggal Jokowi mau atau tidak melakukan itu," kata Indria.

 

Partai pendukung Jokowi bisa kecewa apabila tokoh-tokohnya gagal bersanding dengan Jokowi. Indria menilai mereka bisa saja mencabut dukungannya. Menurutnya, persoalan sebenarnya terletak pada jumlah kandidat cawapres yang banyak.

 

Ketua DPP PKB, Lukman Edy, mengungkapkan AHY tidak cocok dipasangkan dengan Jokowi. Menurut Lukman, Jokowi idealnya berpasangan dengan cawapres yang mewakili keterwakilan umat Islam.

 

Lukman mengatakan Pilpres 2019 akan berbeda dengan Pilpres 2014. Pada pemilihan kali ini, isu Islam mendapat perhatian besar dari publik.

 

Lukman menilai AHY masih belum terlalu kuat untuk mewakili isu Islam tersebut, sehingga tidak memiliki elektabilitas signifikan dalam Pilpres 2019. Meski, AHY termasuk generasi muda yang berpotensi untuk berkiprah dalam dunia politik.

 

Ia menyakini tokoh atau aktivis Islam akan memberikan tingkat elektabilitas yang tinggi. Presentasi elektabilitas kumulatif mereka akan lebih tinggi dibandingkan tokoh nasional, yakni mencapai 24 persen.

 

TGB

Demokrat juga memiliki TGB yang saat ini terus melakukan safari dakwah keliling Indonesia. TGB telah dua periode menjadi Gubernur NTB dengan catatan kinerja cukup meyakinkan. Artinya, dia memiliki jejak dan warisan kesuksesan selama 10 tahun menjadi Gubernur NTB.

 

Partai Demokrat pun diminta untuk mempertimbangkan mengusung TGB M Zainul Majdi di bursa Pilpres. Sebab, TGB dinilai memiliki massa riil dibandingkan massa AHY yang berupa fans.

Pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri B Satrio, menyebut Pilkada DKI Jakarta sebagai contoh kegagalan AHY meraup suara. Sehingga ia berbeda dengan TGB.

 

"AHY mungkin lebih populer dibandingkan TGB. Tapi dia tidak punya masa riil, dia bukan pemimpin daerah dan artis yang punya fanclub," ujar Hendri, Jumat (16/3).

 

Menurut Hendri, TGB memiliki masa riil sebagai pemimpin daerah yang sukses selama dua periode, juga sebagai pemuka agama Islam. Berkaca pada Pilkada DKI, seharusnya Demokrat lebih memilih untuk mengusung TGB.

 

AHY belum membuktikan dirinya sebagai pemimpin di pemerintahan atau politik. Kariernya yang melesat di militer tidak menjamin kesuksesan AHY dalam politik. Namun ia menilai wajar apabila Demokrat tetap mengusung AHY, karena dia merupakan anak SBY.

 

Kendati begitu, Demokrat kemungkinan juga akan mengusung duet TGB-AHY di bursa Pilpres 2019. Kemungkinan, partai koalisi seperti PKB dan PAN bersedia. "SBY bilang, Demokrat sangat mungkin akan usung capres-cawapres. Bahkan duet ini bisa juga sebagai kombinasi kepengurusan baru, TGB Ketum, AHY Sekjen," tutur Hendri.

 

Dukungan terhadap TGB untuk maju sebacai capres/cawapres terus mengalir dari berbagai kalangan asyarakat. Asosiasi Petani Berkah Alam Tasikmalaya, Jawa Barat, menyampaikan dukungannya kepada TGB Zainul Majdi maju dalam Pilpres 2019. Ketua Asosiasi Petani Berkah Alam Tasikmalaya Eko Kurnia mengatakan, Berkah Alam Tasikmalaya sudah mendeklarasikan dukungannya pada empat hari lalu.

 

Spanduk dukungan terhadap TGB pun mulai bermunculan di sejumlah titik di Jakarta. Spanduk yang memasang wajah TGB berbalut warna dominasi putih dengan tulisan berwarna hijau dan hitam ini bertuliskan TGB Suara Rakyat Indonesia.

 

Pemasangan spanduk ini sendiri dilakukan oleh masyarakat yang tergabung dalam sukarelawan Suara Rakyat untuk TGB atau Saya TGB. Seorang sukarelawan Saya TGB, Muhammad Fahrurrozi, mengatakan, aksi pemasangan spanduk ini sebagai bentuk dukungan dan kesadaran masyarakat terhadap keinginan adanya sosok pemimpin baru di Indonesia.

 

Yang terbaru, sejumlah elemen warga di Jawa Barat yang tergabung dalam Tim Relawan TGBest Jawa Barat menyampaikan dukungannya terhadap TGB. Ketua Relawan TGBest Jawa Barat Diding Nasrudin mengatakan, deklarasi ini dilakukan di Bandung pada Jumat (16/3). Tim Relawan TGBest, kata Diding, membulatkan tekad mendukung TGB maju dalam Pilpres mendatang.

 

Bahkan, TGB yang popularitasnya terus naik masuk ke dalam radar calon pemimpin dari hasil survei Demokrat. vTGB mengatakan, jika memang masyarakat membutuhkan, dirinya siap maju dalam Pilpres 2019.

 

"Jadi bagi saya pribadi aspirasi dan harapan itu adalah suatu kehormatan," kata TGB usai memberikan kuliah umum bertajuk "Satu Dasawarsa Membangun NTB" di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Kota Bandung, Jumat (16/3/2018).

 

TGB menuturkan masuknya nama dia dalam bursa capres dari Partai Demokrat menandakan adanya harapan dari elemen masyarakat atau kelompok masyarakat.

 

Dengan melihat plus minus AHY dan TGB semestinya Demokrat berani mengambil keputusan menentukan, siapa yang layak jadi capres/cawapres: TGB atau AHY.

 

Pilihannya cukup berat bagi Demokrat. Jika TGB diabaikan, kemungkinan akan diusung oleh partai politik lain. Hal ini terjadi jika Partai Demokrat tidak mengusungnya sebagai capres atau cawapres.

 

Pendiri KedaiKOPI  Hendri B Satrio menilai TGB memiliki massa yang nyata. Sebab, dia sukses menjabat gubernur selama dua periode dan pemuka agama Islam.

 

"Sangat mungkin TGB diambil oleh parpol lain. Karena dia punya massa riil, gubernur dan pemuka agama Islam. Dia punya massa yang tidak dimiliki kandidat lain," ujar Hendri, Jumat (16/3/2018).

 

Sekarang kuncinya ada di SBY dan Ibu Ani Yudhoyono, apakah Demokrat memajukan AHY dengan membentuk poros baru atau berjiwa besar mengusung TGB. Ditunggu saja.

 

 

 

sumber: republika

Akses LingkarNews Via Mobile m.linkarnews.com
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR
Baca Juga Kumpulan Berita "Politik"