Indonesia New Media Watch duga metode Cambridge Analytic bakal diterapkan di 2019

Dibaca: 956 kali  Sabtu,07 April 2018 | 19:29:44 WIB
Indonesia New Media Watch duga metode Cambridge Analytic bakal diterapkan di 2019
Ket Foto : Indonesia New Media Watch duga metode Cambridge Analytic bakal diterapkan di 2019

 

linkarnews.com - Direktur Indonesia New Media Watch, Agus Sudibyo, menilai metode Cambridge Analytic kemungkinan diterapkan di Pilpres 2019. Metode ini bertujuan dimanfaatkan politisi untuk mengetahui psikologi masyarakat dari konten yang sering dibuka di media sosial terutama Facebook.

Nantinya, secara tidak langsung masyarakat akan terpengaruh dan terarahkan untuk memilih elite yang menyodorkan konten. Tindakan tanpa disadari masyarakat bahwa ada yang memanfaatkan data akun pengguna medsos secara diam-diam. Hal ini pernah terjadi di Amerika 2016 saat Pilpres Donald Trump melawan Hillary Clinton.

"Hampir pasti terjadi (di 2019) dan penggunaan data ini tidak salah sebenarnya. Yang salah ini kok tidak minta izin ke pengguna media sosial. Terus data itu digunakan untuk kejahatan. Kalau data itu digunakan untuk tidak jahat, hanya memasang iklan pilihlah saya, menurut saya gak masalah. Tapi kan bukan nya pilih lah saya tapi yang itu jelek gitu lho, itu yang gak boleh," tutur Agus di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4/2018).

Agus tak mempermasalahkan bila Facebook menggunakan data para pengguna. Persoalannya adalah Facebook tidak transparan dan mestinya terbuka kepada publik yang memiliki akun. Mestinya Facebook beri penjelasan data akun itu digunakan untuk keperluan apa.

"Bahwa Facebook mengkomparasi data kita oke lah itu cingcay (gak masalah) lah dapat arus informasi, sosial media, mereka dapat data tapi data itu digunakan untuk apa itu kan menyangkut nasib kita, jangan-jangan data itu digunakan untuk orang yang jahat kepada kita. Di situ harus transparan. sayangnya FB gak transparan, tahu-tahu datanya dicuri orang atau digunakan oleh lawan politik," ujar Agus.

Agus menerangkan, metode Cambridge Analytic ini sudah diterapkan lama sejak Pemilu 2014 lalu. Dia juga meyakini pada Pilkada DKI Jakarta lalu sistem ini diterapkan namun belum mengemuka ke publik. Menurutnya hal ini bahaya karena bisa menimbulkan kampanye SARA.

"Sudah diterapkan dan bahaya. Tahun 2014 mungkin gak rame, tapi kalau itu sampe mempengaruhi Pilkada DKI itu bahaya kan, karena Pilkada DKI kan meninggalkan trauma ini, soal toleransi dan macem macem. Saya enggak tahu apakah itu berhubungan langsung dengan ini, tapi itu menarik untuk diselidiki lebih lanjut, yang paling tahu polisi karena polisi melalukan investigasi," jelas Agus. (***)

Akses LingkarNews Via Mobile m.linkarnews.com
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR
Baca Juga Kumpulan Berita "Parlamen"