Mendadak Filsafat: Teringat Sutan Takdir Alisyahbana

Dibaca: 1263 kali  Minggu,15 April 2018 | 13:55:18 WIB
Mendadak Filsafat: Teringat Sutan Takdir Alisyahbana
Ket Foto : Sutan Takdir Alisyahbana

 

Oleh: Selamat Ginting*

 

linkarnews.com - Akhir-akhir ini, tiba-tiba di media sosial mendadak membicarakan ilmu filsafat. Ini gegara Rocky Gerung (RG), ilmuwan filsafat yang beberapa kali tampil dalam program ILC di sebuah stasiun televisi swasta nasional. 

 

Mungkin lebih tepat Rocky sebagai pengamat filsafat politik, itulah kecenderungan konsentrasi pengamatannya.

 

Tapi kali ini, saya bukan mau mengupas seorang RG terlepas dari sejumlah kontroversinya. Saya justru ingin mengupas filsafatnya Sutan Takdir Alisyahbana (STA), filsafat kebudayaan.

 

Bagi yang pernah kuliah di Universitas Nasional (Unas) Jakarta, apa pun program studinya, wajib mengambil mata kuliah filsafat kebudayaan STA. Ini salah satu yang membedakan Unas dengan perguruan tinggi lainnya. 

 

Dan sangat jarang mahasiswa yang sekali lulus ambil mata kuliah tersebut. Ini yang memunculkan pemeo, ‘masuk Unas itu mudah, keluarnya sulit’. Ada yang dua kali, bahkan tiga – empat kali, baru lulus mata kuliah yang diasuh Abu Hasan Asyari, asisten dari Profesor Doktor STA. 


Saya tak tahu Abu Hasan itu lulusan S1, S2, S3 atau S yang lain. Masa bodohlah, yang jelas ia menguasai filsafat kebudayaannya STA.

 

Ya, satu-satunya mata kuliah yang harus saya ulang, cuma itu. Pertama dapat nilai D (tak lulus). Asem banget tuh Abu Hasan. Setelah mengulang akhirnya lulus. Lupa dapat nilai C atau B. Tak mungkinlah dapat A. Yang penting luluslah. Hahahaha….

 

Selain mata kuliah filsafat, jarang sekali mahasiswa S1 Unas pada era 1980-1990-an yang lulus empat atau lima tahun. Umumnya lulus setelah enam sampai delapan tahun kuliah, terutama program ilmu politik dan biologi. 

 

Saya menduga mahasiswa terhambat, saat membuat skripsi. Banyak yang harus mengulang, karena gagal saat ujian skripsi. Yang tak biasa menulis, bakalan lama tamat dari Unas. Bahkan ada yang langsung dapat gelar MA bukan master of art, melainkan mahasiswa abadi.

 

Saya beruntung bisa lulus dalam lima tahun. Bukan karena pintar, tetapi lebih tepat kebetulan. Kebetulan saya aktif menjadi aktivis pers mahasiswa yang dipaksa menulis dan mengikuti berbagai seminar dan liputan. 

Sebagai gambaran, dari sekitar 520-an mahasiswa, angkatan kami yang masuk FISIP tahun 1986, hanya sekitar 20-25 orang yang bisa lulus lima tahun, baik yang ambil konsentrasi politik pemerintahan Indonesia, hubungan internasional, administrasi negara, maupun sosiologi.

 

Unas ‘gila’ dan memang agak aneh. STA yang ‘rada sableng’ memang berani berseberangan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ketika Kopertis menentukan akreditasi sejumlah fakultas maupun akademi di bawah Unas, STA berang. 

 

Alasannya sejarah. Unas lahir di era agresi militer Belanda di Indonesia pada 1949. Maka tak usah heran orang seperti Prof Dr Mochtar Kusumaatmaja, mantan menteri luar negeri era Presiden Soeharto, dan Dr Alfian, mantan Ketua LIPI juga lulusan sarjana muda (BA) maupun sarjana S1 ilmu politik Unas.


“Unas lebih dulu ada, sebelum adanya Kopertis bentukan pemerintah Depdikbud. Jadi Unas yang harus memberikan akreditasi kepada Kopertis, bukan sebaliknya,” kata STA, pendiri dan pemilik Unas. Tak ayal, hampir semua program studi di Unas, akreditasinya disamakan. Dulu belum ada istilah A,B, C. Yang ada istilah: disamakan, diakui, dan terdaftar.

 

Dan, sebagai perguruan tingggi swasta tertua di Jakarta, dan tertua kedua di Indonesia setelah Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta (1945), Unas memang punya pengalaman unik. Pemerintah beberapa kali ingin menggabungkan Unas ke dalam Universitas Indonesia (UI), tetapi selalu ditolak STA.

 

“Ilmu sosial politik, biologi, sastra, serta matematika, fisika, dan kimia (MIPA) sejak 1960 sudah diminta bergabung saja ke UI, tapi saya tolak,” ungkap STA, suatu ketika.
Maka tidak mengherankan pada era 1980-an pun, dosen Unas mayoritas berasal dari UI. Mungkin sekitar 75% dosen FISIP Unas adalah juga dosen FISIP UI.

 

Tak usah heran jika pada era itu, ada mahasiswa Unas ujian susulan di UI atau sebaliknya, karena dosennya sama. Jadi semacam UI swasta, begitulah. 


Ketika jenjang strata dua belum umum di perguruan tinggi swasta, di Unas pada 1980-an sudah ada magister ilmu politik, penerjemah, sastra dll. Bahkan kini pun sudah ada strata tiga (doktor) ilmu politik. Satu-satunya swasta di Indonesia yang ada S3 ilmu politiknya.

 

STA juga bisa sombong. Ijazah Unas yang tandatangan STA, jadi tak perlu malu. Karena ia dikenal luas di Indonesia dan juga Malaysia. Doktor honoris causa pun diberikan sejumlah perguruan tinggi, seperti UI, Universitas Andalas dan perguruan tinggi di Malaysia kepada STA. 

 

Utamanya dalam bidang filsafat kebudayaan serta kesusasteraan.

 

STA yang kelahiran Mandailing Natal, Sumatra Utara ini memang lengkap, sebagai akademisi, jurnalis, penulis, sastrawan, budayawan dan lain-lain. Jika kita buka karya-karya sastra Pujangga Baru, mayoritas karya-karya legendaris adalah ciptaan STA, seperti: Dian Tak Kunjung Padam, Layar Terkembang, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Tak Putus Dirundung Malang, Grotta Azzura (novel tiga jilid) dan lain-lain.


Grotta Azzura, novel panjang yang berisi ilmu filsafat. Di situ ditampilkan pergulatan pemikiran timur versus barat. Roman dengan tagline ‘kisah cinta dan cita’ itu, bukan novel sembarangan.

 

Bahkan di halaman awal, STA sudah mengupas masalah otonomi daerah. Sesuatu yang ditakutkan orang untuk dibicarakan pada era Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto. 


"Orang takut otonomi itu masuk konsep federasi, meskipun orang tahu bahwa hampir segala negara besar dan kaya yang ada di dunia bersifat federasi: Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jerman Barat, malahan Soviet Rusia sekalipun...," tulis STA.

Novel Grota Aura karya Sutan Takdir Alisyahbana. (foto:wordpers.com)

 

Novel ilmu filsafat ini cukup berat untuk dicerna. Materi percakapan para tokohnya dari halaman ke halaman berikutnya semakin berat. Lebih berat daripada sekadar seminar filsafat atau seminar politik. Apalagi obrolan sosial politik, seperti talkshow di televisi-televisi. Begitu obrolan menyangkut filsafat, seperti dikemukakan Rocky Gerung, misalnya, banyak yang kejang-kejang, lantaran kedangkalan memahami makna filsafat.

Novel fiksi Grotta Azzura penuh indepth thinking, sehingga kelezatan cerita ala novel atau roman hampir tidak ada. Ada guyonan tapi humor intelektual kelas filsuf. Ya, inilah roman filsafat yang mengisahkan seorang bekas pemberontak Indonesia dengan seniwati Prancis di pulau Capri. Pertemuan mereka dengan sarjana politik, ahli agama dan seniman melahirkan berbagai pembicaraan tentang sejarah, seni, agama, politik, seks dan lain-lain.

Anda akan gagal menangkap roman pemberontakan ini, jika tak mampu memahami filsafat kebudayaan dan politik. Cerita fiksi ini sesungguhnya menceritakan pengalaman pemberontakan pribadi STA. Ia melawan Presiden Sukarno bersama tokoh-tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), termasuk Soemitro Djojohadikusumo, ayah dari Letjen (Purn) Prabowo Subianto. Mereka sejak awal mengumandangkan otonomi daerah pada 1958.

Naha, itulah ‘pemberontakan’ Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sebuah gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta). Konflik ini sangat dipengaruhi tuntutan pemberlakuan otonomi daerah yang lebih luas. Ultimatum tersebut bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, melainkan protes mengenai bagaimana konstitusi seharusnya dijalankan.


Kondisi itu memengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai ketimpangan dalam pembangunan. Utamanya pada daerah-daerah di luar pulau Jawa. PRRI yang di belakangnya orang-orang PSI dan Masyumi, partai politik Islam modernis, kini di era reformasi bukan lagi disebut sebagai pemberontakan, melainkan pergolakan.


Itulah otonomi daerah yang terlalu cepat dimunculkan orang-orang seperti STA dan tokoh-tokoh PSI lainnya, termasuk orang Masyumi. Di situlah ‘perkawinan’ politik kalangan sosialis dan Islamis melawan Sukarno. Cara berpikir mereka kadang terlalu jauh ke depan dan tidak mampu ditangkap lawan debatnya.


Lihatlah masjid di kampus Unas, misalnya. Berbeda dengan masjid umumnya yang berbentuk kubah, STA malah menginginkan masjid berbentuk bunga yang sedang mekar. Maksudnya, kita mesti siap menerima beragam ilmu dari mana pun. Sebab Islam sesungguhnya adalah rahmatan alamin atau rahmat bagi alam semesta. Masjid juga menjadi tempat peradaban menggapai ilmu pengetahuan. 

 

Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat merupakan pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Maka pikirkan segala sesuatu secara mendalam dan menyeluruh dengan segala hubungan.
 

*Selamat Ginting, jurnalis Republika.

Akses LingkarNews Via Mobile m.linkarnews.com
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR
Baca Juga Kumpulan Berita "Profile"