PILPRES

Melihat Kekuatan Prabowo vs Jokowi Untuk Pilpres Babak Dua

Dibaca: 1380 kali  Minggu,15 April 2018 | 15:50:21 WIB
Melihat Kekuatan Prabowo vs Jokowi Untuk Pilpres Babak Dua
Ket Foto : Prabowo Subianto (kiri) saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada 17 Oktober 2014 lalu di rumah Prabowo, menjelang pelantikan Jokowi pada 20 Oktober 2014.

 

linkarnews.com - Dengan pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang siap menjadi calon presiden dalam pilpres 2019 mendatang, maka persaingan babak kedua antara dia dan Presiden Jokowi sudah dimulai, meski secara resmi masa kampanye baru akan berlangsung pada 13 Oktober 2018 nanti.

 

"Selama saya diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa, selama saya masih bisa berjuang, dan selama saya dipercaya oleh Partai Gerindra, apapun tugas yang diberikan Partai Gerindra kepada saya, akan saya jalankan," ucap Prabowo dalam pidato yang disiarkan Kompas TV.

 

"Seandainya Partai Gerindra memerintahkan saya untuk maju dalam pemilihan presiden yang akan datang, saya siap melaksanakan tugas tersebut," sambungnya.

 

Sementara itu, Presiden Jokowi menyatakan dia menghormati keputusan pencapresan Prabowo Subianto.

 

"Kita sangat menghormati dan menghargai yang telah diputuskan oleh Partai Gerindra untuk mencalonkan kembali Bapak Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019-2024," ujar Presiden Jokowi lewat pernyataan yang dikeluarkan oleh Biro Setpers Kepresidenan.

 

Dia juga menyatakan belum mempersiapkan strategi khusus untuk berkompetisi di Pilpres 2019 mendatang. Saat ini, yang masih menjadi fokus Kepala Negara, tambah pernyataan tersebut, ialah bekerja dan menjalankan program-program pemerintahan."Ini masih jauh, masih panjang," tuturnya.

 

Selain itu, Kepala Negara juga menyatakan siap mengikuti segala aturan main yang akan ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Salah satu aturan dimaksud misalnya soal pemberian sepeda yang biasa dibagikan pada saat kunjungan kerja Presiden.

 

"Kalau aturannya sudah ditentukan oleh KPU, misalnya bagi sepeda nggak boleh, bawa pesawat nggak boleh, ya kita taati aturan itu," ucapnya.

 

Sebelumnya, meski KPU sudah membolehkan Presiden menggunakan pesawat kepresidenan dalam berkampanye, beberapa pihak meminta agar aturan soal penggunaan pesawat kepresidenan tersebut diperjelas.

 

Koalisi Partai Pendukung dan Cawapres

Sejauh ini, Presiden Jokowi sudah didukung oleh PDI Perjuangan, Nasdem, Golkar, Hanura, Perindo, PSI, PPP, dan PKPI. Sementara Prabowo Subianto didukung oleh partainya, Gerindra, dan PKS.

 

Meski Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, hadir di acara rapat koordinasi nasional Gerindra, dan mengunggah aktivitasnya naik kuda di belakang Prabowo dalam acara tersebut di Instagram Story-nya, namun belum secara resmi mendukung Prabowo.

 

Partai Demokrat juga belum secara resmi menyatakan dukungannya, meski ada 'sinyal' dari kunjungan Agus Harimurti Yudhoyono ke Istana Negara para Maret 2018 lalu, selain juga kunjungannya ke kios martabak milik Gibran Rakabuming, anak Presiden Jokowi, di Solo, Selasa (10/04) lalu.

 

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga belum menyatakan dukungannya secara resmi, meski Muhaimin Iskandar, politikus dan ketua umum PKB, terang-terangan mengampanyekan dirinya sebagai cawapres untuk mendampingi Jokowi.

 

Manuver Politik

Dalam rakornas Gerindra, Prabowo kembali memamerkan aksi berkudanya, bahkan beberapa yang hadir, seperti Amien Rais, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat diusung untuk ikut naik kuda.

 

Pada Rabu (11/04), muncul video Prabowo yang bertelanjang dada dengan diangkat oleh beberapa orang dan belakangan ada warganet yang menyandingkan video Prabowo bertelanjang dada itu dengan foto Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang juga bertelanjang dada.

 

Beberapa hari sebelumnya, Presiden Jokowi melakukan aksi touring sejauh 30 km menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, yang kemudian ramai menjadi perbincangan di media sosial dan di pemberitaan.

 

Selain itu, dalam kunjungannya ke Asmat, Papua, Presiden Jokowi memboncengi Ibu Negara Iriana Widodo dengan motor listrik menuju aula Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat yang juga menjadi sorotan warganet.

 

Beberapa pengamat komunikasi politik menilai bahwa aksi bermotor Presiden Jokowi, meski menarik secara hiburan, namun tak memberi kesan substansi yang kuat.

 

Berbalas Tagar dan Klaim

Dalam sepekan terakhir, Spredfast mencatat bahwa tagar #2019GantiPresiden sudah digunakan dalam 189.000 lebih cuitan, atau meningkat 656%.

 

Tagar yang kemudian menjadi kaus tersebut kemudian menurut Bawaslu dan KPU tidak termasuk dalam pelanggaran pemilu, karena belum diatur dan peserta pilpres belum ditetapkan.

Sementara itu, untuk Jokowi, ada beberapa tagar yang digunakan, seperti #Jokowisekalilagi yang mencapai 5.000 lebih cuitan dalam sepekan terakhir Tagar lain, #Jokowi2periode yang dalam sepekan terakhir mencapai 24.000 lebih cuitan.

Dalam hal saling berbalas klaim, Prabowo mendapat kritik keras pada akhir Maret 2018 lalu saat cuplikan pidatonya, yang dirilis melalui akun Facebook resmi partai Gerindra, menyatakan bahwa 

 

"negara lain sudah bikin kajian-kajian dengan Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030."

"Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!," katanya dalam pidatonya. 

 

Namun, pemerintah Presiden Joko Widodo menyatakan sudah mencanangkan program Indonesia emas pada 2045, ketika usia negara ini mencapai 100 tahun.

 

Sementara itu, kubu Presiden Jokowi pun mendapat kritikan dari kubu pendukung Prabowo, salah satunya Amien Rais, yang meragukan soal program percepatan sertifikasi tanah.

 

"Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74% negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?" kata Amien Rais di sebuah acara diskusi di Bandung, Minggu (18/03).

 

Tudingan itu telah dibantah langsung oleh Presiden Joko Widodo, tetapi sempat menimbulkan tanggapan keras dari Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan.

 

"Dari dulu juga sertifikat itu dilakuin, tetapi prosesnya panjang, lama, dan sedikit. Sekarang prosesnya cepat dan banyak. Salahnya di mana? Jadi asbun (asal bunyi) aja," kata Luhut.

 

Masa kampanye pemilu dan pemilihan presiden 2019 direncanakan akan mulai pada 13 Oktober 2018 sampai 13 April 2019, namun tampaknya, dengan pengumuman kesiapan Prabowo Subianto maju menjadi capres, maka babak kedua antara dia dan Presiden Jokowi sudah dimulai sejak sekarang. (***)

 

 

sumber: CNN

Akses LingkarNews Via Mobile m.linkarnews.com
BERITA TERKAIT
TULIS KOMENTAR
Baca Juga Kumpulan Berita "Nasional"